ANALISIS
PARAMETER OSEANOGRAFI FISIK
DI PERAIRAN SUNGAI LOBAN DAN SEKITARNYA
KABUPATEN TANAH BUMBU
SAMPUL
LAPORAN
PRAKTEK OSEANOGRAFI FISIKA
AHMAD SULTHAN NURIY
G1F115002
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2017
Pendahuluan
Oseanografi
fisika
adalah kajian tentang aspek fisika di
laut yang meliputi sifat-sifat fisis dan dinamika laut,
sedangkan dinamika
itu sendiri merupakan gerak air laut
yang meliputi arus laut, gelombang laut dan pasang surut laut.
Adanya
faktor-faktor fisik air laut, sepeti arus di lautan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor
internal dan faktor internal. Terjadinya pasang surut berdasarkan teori
kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap
matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Gelombang dipengaruhi kecepatan
angin, lama angin bertiup, luar daerah tempat air berhiur dan kedalaman air
laut. Faktor yang mempengaruhi kecepatan angin diantaranya perbedaan tekanan
udara di dua tempat, relief permukaan bumi dan letak suatu tempat. Faktor yang memengaruhi suhu permukaan laut adalah letak
ketinggian dari permukaan laut (Altituted), intensitas cahaya matahari yang
diterima, musim, cuaca, kedalaman air, sirkulasi udara, dan penutupan awan.
Prairan Sungai Loban merupkan
perairan terbuka yang berhadapan langsung disebelah selatan dengan Laut Jawa. Laut
Jawa termasuk dalam perairan dangkal dengan rata-rata kedalaman mencapai 40m
dan termasuk perairan yang homogen. Kondisi oseanografi permukaan laut dapat
memberikan gambaran secara menyeluruh perihal karakteristik massa dan dinamika
oseanografi perairan. Secara umum dinamika oseanografi perairan Laut Jawa
mendapatkan pengaruh yang kuat dari monsoon seperti halnya perairan Indonesia
lainnya. Kestabilan
muara sungai cukup penting karena dinamika di perairan di muara sungai dan
estuari sangat dinamis. Oleh karena itu jika terjadi perubahan dari faktor laut
lepas dan sungai, kondisi yang dinamis di muara sungai akan terganggu dari
dominasi salah satu faktor dari sungai atau laut. Sedikit perubahan atau
gangguan dari laut lepas atau sungai akan berdampak besar diperairan muara
sungai dimana waktu pemulihan yang dibutuhkan cukup lama. Faktor terbesar yang
mempengaruhi perubahan tersebut adalah berubahnya pola sirkulasi arus di muara
sungai yang disebabkan oleh perubahan bentukan struktur dan kedalaman muara
sungai.
Perairan Desa Sungai Loban yang
berada di Kabupaten Tanah Bumbu merupakan perairan terbuka yang cocok untuk
dilakukan kegiatan praktik lapang. Selain itu kondisi perairannya yang langsung
berhadapan dengan Laut Jawa dan terdapat beberapa sungai di pesisirnya membuat
pola oseanografi fisika perairan tersebut beragam.
1.2.
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dan kegunaan dari
penelitian ini adalah mengukur dan menganalisis kondisi hidroosenanografi fisik
perairan Sungai Loban.
1.3. Ruang Lingkup Praktek
1.3.1. Ruang Lingkup
Wilayah
Lokasi penelitian untuk mata kuliah Oseanografi fisika
kali ini bertempat di Desa Sungai Loban Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah
Bumbu Kalimantan Selatan. Lokasi ini dipilih karena memenuhi syarat untuk
pengambilan data seperti data gelombang,
arus, pasang surut, kedalaman, suhu, dan kecerahan.Jarak daratan ke laut lepas
berkisar ± 5,60 mil dengan lebar ± 5 mil.
1.3.2. Ruang Lingkup Materi
Ruang
lingkup materi laporan praktik oseanografi fisika adalah sebagai berikut:
1.
Pengukuran gelombang, pasang
surut, arus, kedalaman, kecerahan, suhu, dan angin.
2.
Perbandingan arus dan
kecepatan angin
3.
Prediksi gelombang dan angin
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Pasang Surut
Menurut Azis (2006), Secara umum pasang surut diartikan sebagi
perubahan gerak relatif dari suatu materi planet bintang dan benda angkasa
lainnya yang diakibatkan aksi gravitasi benda-benda angkasa di luar materi itu
berada. Terdapat tiga macam pasang surut yang ada di bumi, menurut Gross,(1997)
dalam Menurut Azis (2006), yakni:
-
Pasang surut atmosfer (Atmospheric
Tide)
-
Pasang surut laut (Ocean
Tide)
-
Pasang surut bumi (Boily
Tide)
Air pada
bagian ujung pantai tidak pernah diam pada satu ketinggian yang tetap, tetapi
selalu bergerak naik dan turun, gerakan tersebut dinamakan pasang surut, dalam
pasang surut tedapat pasang tinggi (high
wter) dan pasang rendah (low water)
dan antara keduanya disebut tidal range. Terdapat pasang maksimun (neap tide) yang terjadi pada bulan baru
(new moon) dan bulan penuh (full moon) serta terdapat pasang
terendah yang terjadi pada perempatan bulan pertama dan perempatan bulan ke
tiga (Hutabarat dan Evans, 1985).
Menurut
Hartono (2007), pasang surut adalah naik dan turunya air laut secara beraturan
berdasarkan waktu (periodik), yaitu
sekitar 24 jam 50 menit, Pasang surut air laut merupakan pengaruh adanya gaya
gravitasi bulan dan juga matahari terhadap bumi, terdapat dua pasut utama yaitu
pasang purnama (Spring Tide) dan
pasang perbani (Neep-Tide). Menurut
Lubis dan Widanarko (2011),tipe-tipe pasang surut adalah sebagai berikut:
1.
Pasang Surut Harian
-
Pasang Surut Harian Tunggal
(Diurnal Tide)
Satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut.
Periode pasang selama 24 jam 50 menit
-
Pasang Surut Harian Ganda (Semidiurnal
Tide)
Satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut
dengan tinggi yang hampir sama. Pasang surut terjadi secara berurutan secara
teratur. Periode pasang surut rata-rata 12 jam 24 menit. Pasang surut ini
terdapat di Selat Malaka sampai Laut Andaman.
-
Pasang Surut Campuran
Condong ke Harian Tunggal (Mixed Tide Revailing Diurnal)
Satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut,
tetapi kadang-kadang teradi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi
dan periode yang sangat berbeda.
-
Pasang Surut Campuran
Condong ke Ganda (Mixed Tide Prevailing Semidiurnal)
Satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi
tinggi dan periodenya berbeda.
2.
Pasang Surut Purnama (Spring Tide)
3.
Pasang Surut Perbani (Neap Tide)
Gambar 1. Tipe-Tipe Pasut
Dalam pasang surut terdapat dua teori utama yaitu teori
kesetimbangan dan juga teori pasang surut dinamik, dalam Ilmu kelautan (2014), Dijelaskan
bahwa:
1.
Teori Kesetimbangan (Equilibrium
Theory) Teori ini diperkenalkan pertama kali oleh Sir Isaac Newton (1642 -
1727). Teori ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori terjadi
pada bumi ideal yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman
(Inertia) diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan
laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966). Untuk memahami
gaya pembangkit passng surut dilakukan dengan memisahkan pergerakan sistem
bumi-bulan-matahari menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan sistem bumi matahari.
2.
Teori Pasut Dinamik (Dynamical
Theory) Pond dan Pickard (1978) menyatakan bahwa dalam teori ini lautan
yang homogen masih diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang
konstan, tetapi gaya-gaya tarik periodik dapat membangkitkan gelombang dengan
periode sesuai dengan konstitue-konstituennya. Gelombang pasut yang terbentuk
dipengaruhi oleh GPP, kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi, dan
pengaruh gesekan dasar. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Laplace
(1796-1825). Teori ini melengkapi teori kesetimbangan sehingga sifat-sifat
pasut dapat diketahui secara kuantitatif. Menurut teori dinamis, gaya
pembangkit pasut menghasilkan gelombang pasut (tide wive) yang
periodenya sebanding dengan gaya pembangkit pasut.
2.2. Gelombang
Gelombang laut atau
ombak merupakan gerakan air laut yang paling umum dan mudah diamati. Helmoles
menerangkan prinsip dasar terjadinya gelombang laut sebagai berikut, “jika ada
dua massa benda kerapatannya (densitasnya) bergesekan satu sama lain, maka pada
bidang gerakannya akan terbentuk gelombang”. Gelombang terjadi karena beberapa
sebab, antara lain angin, menabrak pantai, atau gempa. Berdasarkan gerakan
permukaannya, gelombang dapat dikelompokkan sebagai berikut: gerak osilasi,
gerak transiasi, gerak swash dan back swash (Hanafi, 2009).
Gelombang
sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin diatas permukaan laut dan sebagian
lagi oleh tekanan tanggensial pada partikel air. Angin yang bertiup dipermukaan
laut mula-mula menimbulkan riak gelombang (ripples).
Jika kemudian angin berhenti bertiup maka riak gelombang akan hilang dan
permukaan laut merata kembali. Tetapi jika angin bertiup lama maka riak
gelombang akan hilang dan prmukaan gelombang merata kembali. Tetapi angin ini
bertiup lama maka riak gelombang membesar terus walaupun kemudian anginya
berhenti bertiup. Setelah meninggalkan daerah asal bermula tiupan angin, maka
gelombang merata menjadi ombak sederhana (Romimohtarto, 2001).
Tranformasi gelombang terjadi apabila sederetan gelombang merambat bergerak
menuju ke pantai, gelombang akan mengalami beberapa proses yang merubah sifat
gelombang. Gelombang yang merambat menuju tepi pantai
akan mengalami beberapa proses perubahan ketinggian gelombang sebagai akibat
dari proses pendangkalan (wave shoaling), refraksi, difraksi atau
proses refleksi sebelum akhirnya gelombang tersebut pecah (wave breaking)
Gambar 2. Gelombang
Umumunya
keadan gelombang di perairan diperoleh secara tidak langsung dari data angin
yang ada disuatu wilayah tersebut. Hal itu berdasarkan kondisi umum dilaut yang
mengungkapkan bahwa sebagian besar gelombang berasal dari tiupan angin.
Gelombang tergantung pada 3 faktor yaitu kecepatan angin, lamanya berhembus dan
jarak (Pariwono, 1999).
Gambar 3. Gelombang
Angin
Menurut Kurniawan dkk (2011), mengemukakan bahwa terdapat beberapa
jenis gelombang berdasarkan faktor pembangkitnya, yaitu :
1.
Gelombang Angin, merupakan
gelombang yang disebabkan oleh tiupan angin di permukaan laut. Gelombang ini
mempunyai periode yang sangat bervariasi, ditinjau dari frekuensi kejadiannya,
gelombang angin merupakan gelombang yang paling dominan terjadi di laut.
2.
Gelombang Pasang surut
(Pasut), merupakan gelombang yang disebabkan oleh gaya tarik bumi terhadap
benda -benda langit, benda langit yang paling besar pengaruhnya adalah Matahari
dan Bulan, gelombang pasut lebih mudah diprediksi karena terjadi secara
periodik mengikuti sesuai peredarannya.
3.
Gelombang Tsunami, gelombang
yang diakibatkan oleh gempa bumi tektonik atau letusan gunung api di dasar
laut, tsunami merupakan gelombang yang sangat besar dan tinggi gelombangnya
dapat mencapai lebih dari 10 meter.
Pada pertumbuhan gelombang laut dikenal beberapa
istilah seperti :
1.
Fully developed seas, kondisi di mana tinggi gelombang mencapai harga
maksimum (terjadi jika fetch cukup panjang).
2.
Fully limited-condition, pertumbuhan gelombang dibatasi oleh fetch. Dalam hal ini panjang fetch (panjang daerah pembangkit angin)
dapat dibatasi oleh garis pantai atau dimensi ruang dari medan angin
3.
Duration limited-condition, pertumbuhan gelombang dibatasi oleh lamanya waktu
dari tiupan angin
4.
Sea waves, gelombang yang
tumbuh di daerah medan angin. Kondisi gelombang di sini adalah curam yaitu
panjang gelombang berkisar antara 10 sampai 20 kali lebih tinggi gelombang
5.
Swell waves (swell), gelombang yang
tumbuh (menjalar) di luar medan angin. Kondisi gelombang di sini adalah landai
yaitu panjang gelombang berkisar antara 30 sampai 500 kali tinggi gelombang.
2.3. Arus
Arus
merupakan gerakan massa air dengan skala luas yang terjadi di seluruh perairan
laut dunia. Arus merupakan faktor yang menentukan arah pelayaran, arus biasanya
disebabakan karena hembusan angin di permukaan perairan, selain itu arus juga
dipengaruhi oleh faktor - faktor lain seperti bentuk topografi dasar lautan dan
pulau - pulau yang ada di sekitarnya, gaya coriolis dan juga arus ekman. Pada
arus lautan terdapat arus air vertikal yang disebut dengan upwelling, upwelling
sendiri merupakan proses dimana massa air didorong keatas dari kedalaman
sekitar 100 sampai 200 meter dan dapat terjadi disepanjang pantai barat
dibeberapa benua (Hutabarat dan Evans, 1985)
Angin
cenderung mendorong lapisan air di permukaan laut dalam arah gerakan angin.
Tetapi karena pengaruh rotasi bumi atau pengaruh gaya Coriolis, arus tidak
bergerak searah dengan arah angin tetapi dibelokan ke arah kanan dari arah
angin di belahan bumi utara dan arah kiri di belahan bumi selatan.Pada
kedalaman yang cukup besar antara 500 - 2000 m, kecepatan arus yang ditimbulkan
angin menjadi nol. Kedalaman dimana kecepatan arus sama dengan nol disebut
kedalaman tanpa gerakan atau kedalaman Ekman (Azis, 2006).
Gambar 4. Arah Arus
Permuakaan Dunia
Arus adalah gerakan
mengalir suatu massa air ke arah tertentu. Arus ini bisa sehangat 30oC
atau sedingin -2oC, tergantung darimana air tersebut berasal, dan
lebar arus bisa lebih dari 60 km. Sebagian besar arus bergerak dengan kecepatan
10 km per hari, meskipun untuk beberapa jenis arus dapat bergerak lebih cepat.
Arus membawa banyak sekali air ke seluruh penjuru bumi, mempengaruhi dan
membantu mengatur iklim. Arus terdapat di permukaan maupun di samudera yang
dalam. Arus mempunyai arti yang sangat penting dalam menentukan arah pelayaran
bagi kapal (Kurniawan et, al., 2009).
Menurut Widyastuti
(2009) pergerakan arah arus permukaan indonesia sebagai berikut:
1.
Arus yang bergerak dari
Benua Asia menuju ke Benua Australia, dikarenakan pengaruh angin muson barat,
rata-rata pola pergerakan arus ini terjadi pada kisaran bulan
Desember-Februari.
2.
Arus yang bergerak dari
Benua Australia menuju ke Benua Asia, dikarenakan pengaruh angin muson timur,
rata-rata pola pergerakan arus ini terjadi pada kisaran bulan Juni-Agustus.
Tabel 1. Kecepatan arus permukaan maksimal dan minimum pertahun
Arus laut (sea
current) adalah gerakan massa air laut dari tempat ke tempat lain baik
secara vertikal (gerakan ke atas) maupun secara horisontal (gerakan ke
samping). Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus
bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut, sedangkan arus
bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut (Hanafi, 2009).
Samudra pasifik
ternyata memiliki arus laut yang kuat. Aliran arus laut karena pasang surut
atau arus sungai menyimpan energi hidro kinetik yang dapat dikonversikan
menjadi daya listrik. Perubahan kecepatan arus yang sangat besar dipengaruhi
oleh gaya pasang surut yang bekerja menyebabkan pergerakan massa air. Perubakan
kecepatan ini diakibatkan perbedaan batimetri dan pergerakan elevasi muka air
(Purba, 2010).
2.4.
Kedalaman
Dilihat dari kedalaman lautmya, perairan Indonesia pada garis
besarnya dapat di bagi dua yakni perairan dangkal berupa paparan dan perairan
laut dalam. Paparan (shelf) adalah
zona di laut terhitung mulai dari garis surut terendah hingga pada kedalaman
sekitar 120 - 200 m yang kemudian biasanya disusul dengan lereng yang lebih
curam ke arah dalam. Ada dua paparan yang luas di Indonesia yakni Paparan Sunda
di sebelah barat dan Paparan Arafura-Sahul di sebelah timur.
Indonesia mempunyai topografi dasar laut yang kompleks, hal ini di
sebabkan karena di kawasan Indonesia berbenturan atau bergesekan empat lempeng
litosfer yakni lempeng-lempeng Eurasia, Filipina, Pasifik dan Samudra
Hindia-Australia (Nontji, 2007).
Gambar 5. Kedalaman
Berdasarkan kedalamannya laut dibedakan menjadi 4
wilayah (zona) yaitu: zona Lithoral, zona Neritic, zona Bathyal
dan zona Abysal.
1.
Zona Lithoral, adalah
wilayah pantai atau pesisir atau shore. Di wilayah ini pada saat air
pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan. Oleh
karena itu wilayah ini sering juga disebut wilayah pasang-surut.
2.
Zona Neritic (wilayah
laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga kedalaman
150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga pada
wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun
tumbuh-tumbuhan. Contohnya laut Jawa, laut Natuna, selat Malaka dan laut-laut
di sekitar kepulauan Riau.
3.
Zona Bathyal (wilayah
laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 150 m
hingga 1800 m. Wilayah ini tidak dapat tertembus sinar matahari, oleh karena
itu kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di wilayah Neritic.
4. Zone
Abyssal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah
laut yang memiliki kedalaman di atas 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat
dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan. Jenis hewan yang dapat hidup di wilayah
ini sangat terbatas.
2.5. Kelerengan
Kemiringan
lereng pantai dan distribusi sedimen merupakan bagian dari geomorfologi pantai
dan menjadi indikator dinamika pantai. Menurut Komar (1983) dan Kalay (2008)
keberadaan kemiringan lereng pantai dan distribusi sedimen sebagai penutup
dasar perairan menggambarkan kestabilan garis pantai. Kemiringan pantai berhubungan
dengan dominansi dan sebaran sedimen. Perubahan geomorfologi pantai akibat
dinamika kemiringan lereng dan distribusi sedimen menyebabkan terjadinya abrasi
maupun akresi pada pantai.
Menurut Triatmodjo (1999) perubahan bentuk
pantai merupakan respons dinamis alami pantai terhadap laut. Apabila proses
tersebut berlangsung terus-menerus tanpa ada faktor penghambat, maka akan
terbentuk suatu kesetimbangan pantai. Selanjutnya menurut Diposaptono (2004)
dalam skala waktu dan ruang luas daratan, besaran energi eksternal dan daya
tahan material penyusun pantai akan menentukan apakah pantai tersebut akan
stabil ataukah mengalami perubahan.
Tabel
2. Kemiringan Lereng
|
Simbol
|
Kemiringan Lereng
|
Topografi
|
|
1
|
Kurang dari 3 %
|
Datar
|
|
2
|
3 - 15 %
|
Berombak
|
|
3
|
15 – 30 %
|
Bergelombang
|
|
4
|
30 – 50 %
|
Berbukit
|
|
5
|
50 – 80 %
|
Berbukit
|
|
6
|
80 – 100 %
|
Sangat Curam
|
|
7
|
100 – 150 %
|
Terjal
|
|
8
|
150 % - ke atas
|
Sangat Terjal
|
Kemiringan lereng menunjukan besarnya sudut lereng
dalam persen atau derajat. Dua titik yang berjarak horizontal 100 meter yang
mempunyai selisih tinggi 10 meter membentuk lereng 10%. Kecuraman lereng 100%
sama dengan kecuraman 45 derajat. Selain dari memperbesar jumlah aliran
permukaan, semakin curamnya lereng juga memperbesar energi angkut air. Jika
kemiringan lereng semakin besar, maka jumlah butir-butir tanah yang terpercik
ke bawah oleh tumbukan butir hujan akan semakin banyak. Hal ini disebabkan gaya
berat yang semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah dari
bidang horizontal, sehingga lapisan tanah atas yang tererosi akan semakin
banyak. Jika lereng permukaan tanah menjadi dua kali lebih curam, maka
banyaknya erosi per satuan luas menjadi 2,0 - 2,5 kali lebih banyak (Arsyad,
2002).
2.6.
Suhu
Suhu
merupakan salah satu faktor pembatas terhadap ikan-ikan atau biota akuatik.
Suhu dapat mengendalikan fungsi fisiologis organisme dan berperan secara
langsung atau tidak langsung bersama dengan komponen kualitas air lainnya
mempengaruhi kualitas akuatik. Temperatur air mengendalikan spawning dan hatching,
mengendalikan aktivitas, memacu atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan,
menyebabkan air menjadi panas atau dingin sekali secara mendadak. Temperatur
air juga mempengaruhi berbagai macam reaksi fisika dan kimiawi di dalam
lingkungan akuatik (Sovisa, 2009).
Menurut
Nontji (1987), suhu air permukaan di perairan nusantara kita umumnya berkisar
antara 28 - 31oC. Suhu air didekat pantai biasanya sedikit lebih
tinggi daripada yang di lepas pantai. Peningkatan suhu perairan mengakibatkan
peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan valurisasi. Peningkatan
suhu juga menyebabkan penurunan gas di dalam air, misalnya gas O2,
CO2, N2, CH4 dan sebagainya (Hassam Efendi,
2009).
Secara keseluruhan, sebagian besar air samudra itu
dingin. Kurang dari 10% volume air laut di muka bumi suhunya lebih dari 10˚ C
dan lebih dari 75% suhunya di bawah 4˚ C . alas an utama dari perbandingan ini
adalah karena sinar matahari hanya mampu menembus laut sampai beberapa ratus
meter saja. Sedangkan pengaruh penyinaran matahari musiman hanya mencapai kira
– kira 100 m. akibatnya di samudra terdapat lapisan atas yang relative hangat
dihubungkan dengan lapisan transisi mendadak ke air dingin yang merupakan kolom
air samudra sisanya. Daerah (lapisan) dengan penurunan suhu cepat ke bawah ini
disebut termoklin (Romimohtarto,2009).
Gambar
6. Stratifikasi Suhu Prairan Laut
Menurut Abdulmunthalib (2009) stratifikasi vertikal
kolom air yang berdasarkan perbedaan panas (perbedaan suhu) pada setiap
kedalaman perairan dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1.
Epilimnion merupakan lapisan bagian atas perairan. Lapisan ini bagian yang
hangat kolom air, suhu relatif konstan (perubahan suhu sangat kecil secara
vertikal). Seluruh massa air di lapisan ini tercampur dengan baik karena
pengaruh angin dan gelombang.
2.
Metalimnion atau yang sering disebut Termoklin, terletak di bawah lapisan
epilimnion. Perubahan suhu dan panas secara vertikal relatif besar pada lapisan
ini. Setiap penambahan kedalaman satu meter terjadi penurunan suhu air sekitar
1˚C.
3.
Hipolimnion, terletak di bawah lapisan termoklin. Lapisan ini lebih dingin,
bercirikan adanya perbedaan suhu secara vertikal relatif kecil. Sifat massa
airnya stagnan, tidak mengalami percampuran (mixing) dan memiliki kekentalan
air (densitas) yang lebih besar. Pada umumnya di wilayah tropis memiliki
perbedaan suhu air permukaan dengan bagian dasar hanya sekitar 2 - 3˚C.
2.6.
Kecerahan
Dengan mengetahui
kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai dimana masih ada
kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, lapiran-lapisan manakah yang
paling keruh, yang agak keruh dan yang paling keruh (Kordi dan Andi, 2007).
Faktor kecerahan ini
berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi, berarti penetrasi
cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi
pula (Dedi, 2009).
Kecerahan suatu
perairan menetukan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu perairan
dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlansung sempurna.
Kecerahan yang mendukung apabila Seichi disk mencapai 20-40 cm dari permukaan.
Kecerahan merupakan ciri penentu untuk pencerahan, penglihatan yang mana suatu
sumber dilihat memancarkan sejumlah kandungan cahaya (Effendi, 2003). Dalam
kata lain kecerahan adalah pencerahan yang terhasil dari pada kekilauan sasaran
penglihatan, Kecerahan merupakan suatu ukuran dimana cahaya didalam air yang
disebabkan oleh adanya partikel-partikel kaloid dan suspensi dari suatu bahan
pencemaran
Kecerahan air laut
ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sediment yang di
bawa oleh aliran sungai pada laut yang diketahui radiasi sinar matahari yang
dibutuhkan untuk proses fotosintesis. Tumbuhan laut akan kurang dibandingkan
dengan air laut jernih. Pada perairan laut yang dalam dan jernih, fotosintesis
tumbuhan itu mencapai 200 meter, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15-40
meter (Efrizal, 2006).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar