Selasa, 12 September 2017

Oseagnografi Fisika




ANALISIS PARAMETER OSEANOGRAFI FISIK
DI PERAIRAN SUNGAI LOBAN DAN SEKITARNYA
KABUPATEN TANAH BUMBU

SAMPUL

LAPORAN PRAKTEK OSEANOGRAFI FISIKA



AHMAD SULTHAN NURIY
G1F115002





   
 
  
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2017 

Pendahuluan



Oseanografi fisika adalah kajian tentang aspek fisika di laut yang meliputi sifat-sifat fisis dan dinamika laut, sedangkan dinamika itu sendiri merupakan gerak air laut yang meliputi arus laut, gelombang laut dan pasang surut laut.
            Adanya faktor-faktor fisik air laut, sepeti arus di lautan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor internal. Terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Gelombang dipengaruhi kecepatan angin, lama angin bertiup, luar daerah tempat air berhiur dan kedalaman air laut. Faktor yang mempengaruhi kecepatan angin diantaranya perbedaan tekanan udara di dua tempat, relief permukaan bumi dan letak suatu tempat. Faktor yang memengaruhi suhu permukaan laut adalah letak ketinggian dari permukaan laut (Altituted), intensitas cahaya matahari yang diterima, musim, cuaca, kedalaman air, sirkulasi udara, dan penutupan awan.
     Prairan Sungai Loban merupkan perairan terbuka yang berhadapan langsung disebelah selatan dengan Laut Jawa. Laut Jawa termasuk dalam perairan dangkal dengan rata-rata kedalaman mencapai 40m dan termasuk perairan yang homogen. Kondisi oseanografi permukaan laut dapat memberikan gambaran secara menyeluruh perihal karakteristik massa dan dinamika oseanografi perairan. Secara umum dinamika oseanografi perairan Laut Jawa mendapatkan pengaruh yang kuat dari monsoon seperti halnya perairan Indonesia lainnya. Kestabilan muara sungai cukup penting karena dinamika di perairan di muara sungai dan estuari sangat dinamis. Oleh karena itu jika terjadi perubahan dari faktor laut lepas dan sungai, kondisi yang dinamis di muara sungai akan terganggu dari dominasi salah satu faktor dari sungai atau laut. Sedikit perubahan atau gangguan dari laut lepas atau sungai akan berdampak besar diperairan muara sungai dimana waktu pemulihan yang dibutuhkan cukup lama. Faktor terbesar yang mempengaruhi perubahan tersebut adalah berubahnya pola sirkulasi arus di muara sungai yang disebabkan oleh perubahan bentukan struktur dan kedalaman muara sungai.
     Perairan Desa Sungai Loban yang berada di Kabupaten Tanah Bumbu merupakan perairan terbuka yang cocok untuk dilakukan kegiatan praktik lapang. Selain itu kondisi perairannya yang langsung berhadapan dengan Laut Jawa dan terdapat beberapa sungai di pesisirnya membuat pola oseanografi fisika perairan tersebut beragam.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dan kegunaan dari penelitian ini adalah mengukur dan menganalisis kondisi hidroosenanografi fisik perairan Sungai Loban.
1.3. Ruang Lingkup Praktek
1.3.1. Ruang Lingkup Wilayah
            Lokasi penelitian untuk mata kuliah Oseanografi fisika kali ini bertempat di Desa Sungai Loban Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Lokasi ini dipilih karena memenuhi syarat untuk pengambilan data seperti data gelombang, arus, pasang surut, kedalaman, suhu, dan kecerahan.Jarak daratan ke laut lepas berkisar ± 5,60 mil dengan lebar ± 5 mil.
1.3.2. Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup materi laporan praktik oseanografi fisika adalah sebagai berikut:
1.      Pengukuran gelombang, pasang surut, arus, kedalaman, kecerahan, suhu, dan angin.
2.      Perbandingan arus dan kecepatan angin
3.      Prediksi gelombang dan angin

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pasang Surut
Menurut Azis (2006), Secara umum pasang surut diartikan sebagi perubahan gerak relatif dari suatu materi planet bintang dan benda angkasa lainnya yang diakibatkan aksi gravitasi benda-benda angkasa di luar materi itu berada. Terdapat tiga macam pasang surut yang ada di bumi, menurut Gross,(1997) dalam Menurut Azis (2006), yakni:
-          Pasang surut atmosfer (Atmospheric Tide)
-          Pasang surut laut (Ocean Tide)
-          Pasang surut bumi (Boily Tide)
Air pada bagian ujung pantai tidak pernah diam pada satu ketinggian yang tetap, tetapi selalu bergerak naik dan turun, gerakan tersebut dinamakan pasang surut, dalam pasang surut tedapat pasang tinggi (high wter) dan pasang rendah (low water) dan antara keduanya disebut tidal range. Terdapat pasang maksimun (neap tide) yang terjadi pada bulan baru (new moon) dan bulan penuh (full moon) serta terdapat pasang terendah yang terjadi pada perempatan bulan pertama dan perempatan bulan ke tiga (Hutabarat dan Evans, 1985).
Menurut Hartono (2007), pasang surut adalah naik dan turunya air laut secara beraturan berdasarkan waktu (periodik), yaitu sekitar 24 jam 50 menit, Pasang surut air laut merupakan pengaruh adanya gaya gravitasi bulan dan juga matahari terhadap bumi, terdapat dua pasut utama yaitu pasang purnama (Spring Tide) dan pasang perbani (Neep-Tide). Menurut Lubis dan Widanarko (2011),tipe-tipe pasang surut adalah sebagai berikut:
1.      Pasang Surut Harian
-          Pasang Surut Harian Tunggal (Diurnal Tide)
Satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Periode pasang selama 24 jam 50 menit
-          Pasang Surut Harian Ganda (Semidiurnal Tide)
Satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut dengan tinggi yang hampir sama. Pasang surut terjadi secara berurutan secara teratur. Periode pasang surut rata-rata 12 jam 24 menit. Pasang surut ini terdapat di Selat Malaka sampai Laut Andaman.
-          Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Tunggal (Mixed Tide Revailing Diurnal)
Satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi kadang-kadang teradi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda.
-          Pasang Surut Campuran Condong ke Ganda (Mixed Tide Prevailing Semidiurnal)
Satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda.
2.      Pasang Surut Purnama (Spring Tide)
3.      Pasang Surut Perbani (Neap Tide)

Gambar 1. Tipe-Tipe Pasut
            Dalam pasang surut terdapat dua teori utama yaitu teori kesetimbangan dan juga teori pasang surut dinamik, dalam Ilmu kelautan (2014), Dijelaskan bahwa:
1.      Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory) Teori ini diperkenalkan pertama kali oleh Sir Isaac Newton (1642 - 1727). Teori ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori terjadi pada bumi ideal yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966). Untuk memahami gaya pembangkit passng surut dilakukan dengan memisahkan pergerakan sistem bumi-bulan-matahari menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan sistem bumi matahari.
2.      Teori Pasut Dinamik (Dynamical Theory) Pond dan Pickard (1978) menyatakan bahwa dalam teori ini lautan yang homogen masih diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang konstan, tetapi gaya-gaya tarik periodik dapat membangkitkan gelombang dengan periode sesuai dengan konstitue-konstituennya. Gelombang pasut yang terbentuk dipengaruhi oleh GPP, kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi, dan pengaruh gesekan dasar. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Laplace (1796-1825). Teori ini melengkapi teori kesetimbangan sehingga sifat-sifat pasut dapat diketahui secara kuantitatif. Menurut teori dinamis, gaya pembangkit pasut menghasilkan gelombang pasut (tide wive) yang periodenya sebanding dengan gaya pembangkit pasut.
2.2. Gelombang
Gelombang laut atau ombak merupakan gerakan air laut yang paling umum dan mudah diamati. Helmoles menerangkan prinsip dasar terjadinya gelombang laut sebagai berikut, “jika ada dua massa benda kerapatannya (densitasnya) bergesekan satu sama lain, maka pada bidang gerakannya akan terbentuk gelombang”. Gelombang terjadi karena beberapa sebab, antara lain angin, menabrak pantai, atau gempa. Berdasarkan gerakan permukaannya, gelombang dapat dikelompokkan sebagai berikut: gerak osilasi, gerak transiasi, gerak swash dan back swash (Hanafi, 2009).
Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin diatas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tanggensial pada partikel air. Angin yang bertiup dipermukaan laut mula-mula menimbulkan riak gelombang (ripples). Jika kemudian angin berhenti bertiup maka riak gelombang akan hilang dan permukaan laut merata kembali. Tetapi jika angin bertiup lama maka riak gelombang akan hilang dan prmukaan gelombang merata kembali. Tetapi angin ini bertiup lama maka riak gelombang membesar terus walaupun kemudian anginya berhenti bertiup. Setelah meninggalkan daerah asal bermula tiupan angin, maka gelombang merata menjadi ombak sederhana (Romimohtarto, 2001).
Tranformasi gelombang terjadi apabila sederetan gelombang merambat bergerak menuju ke pantai, gelombang akan mengalami beberapa proses yang merubah sifat gelombang. Gelombang yang merambat menuju tepi pantai akan mengalami beberapa proses perubahan ketinggian gelombang sebagai akibat dari proses pendangkalan (wave shoaling), refraksi, difraksi atau proses refleksi sebelum akhirnya gelombang tersebut pecah (wave breaking)


Gambar 2. Gelombang
Umumunya keadan gelombang di perairan diperoleh secara tidak langsung dari data angin yang ada disuatu wilayah tersebut. Hal itu berdasarkan kondisi umum dilaut yang mengungkapkan bahwa sebagian besar gelombang berasal dari tiupan angin. Gelombang tergantung pada 3 faktor yaitu kecepatan angin, lamanya berhembus dan jarak (Pariwono, 1999).

Gambar 3. Gelombang Angin

Menurut Kurniawan dkk (2011), mengemukakan bahwa terdapat beberapa jenis gelombang berdasarkan faktor pembangkitnya, yaitu :
1.      Gelombang Angin, merupakan gelombang yang disebabkan oleh tiupan angin di permukaan laut. Gelombang ini mempunyai periode yang sangat bervariasi, ditinjau dari frekuensi kejadiannya, gelombang angin merupakan gelombang yang paling dominan terjadi di laut.
2.      Gelombang Pasang surut (Pasut), merupakan gelombang yang disebabkan oleh gaya tarik bumi terhadap benda -benda langit, benda langit yang paling besar pengaruhnya adalah Matahari dan Bulan, gelombang pasut lebih mudah diprediksi karena terjadi secara periodik mengikuti sesuai peredarannya.
3.      Gelombang Tsunami, gelombang yang diakibatkan oleh gempa bumi tektonik atau letusan gunung api di dasar laut, tsunami merupakan gelombang yang sangat besar dan tinggi gelombangnya dapat mencapai lebih dari 10 meter.
            Pada pertumbuhan gelombang laut dikenal beberapa istilah seperti :
1.      Fully developed seas, kondisi di mana tinggi gelombang mencapai harga maksimum (terjadi jika fetch cukup panjang).
2.      Fully limited-condition, pertumbuhan gelombang dibatasi oleh fetch. Dalam hal ini panjang fetch (panjang daerah pembangkit angin) dapat dibatasi oleh garis pantai atau dimensi ruang dari medan angin
3.      Duration limited-condition, pertumbuhan gelombang dibatasi oleh lamanya waktu dari tiupan angin
4.      Sea waves, gelombang yang tumbuh di daerah medan angin. Kondisi gelombang di sini adalah curam yaitu panjang gelombang berkisar antara 10 sampai 20 kali lebih tinggi gelombang
5.      Swell waves (swell), gelombang yang tumbuh (menjalar) di luar medan angin. Kondisi gelombang di sini adalah landai yaitu panjang gelombang berkisar antara 30 sampai 500 kali tinggi gelombang.
2.3. Arus
Arus merupakan gerakan massa air dengan skala luas yang terjadi di seluruh perairan laut dunia. Arus merupakan faktor yang menentukan arah pelayaran, arus biasanya disebabakan karena hembusan angin di permukaan perairan, selain itu arus juga dipengaruhi oleh faktor - faktor lain seperti bentuk topografi dasar lautan dan pulau - pulau yang ada di sekitarnya, gaya coriolis dan juga arus ekman. Pada arus lautan terdapat arus air vertikal yang disebut dengan upwelling, upwelling sendiri merupakan proses dimana massa air didorong keatas dari kedalaman sekitar 100 sampai 200 meter dan dapat terjadi disepanjang pantai barat dibeberapa benua (Hutabarat dan Evans, 1985)
Angin cenderung mendorong lapisan air di permukaan laut dalam arah gerakan angin. Tetapi karena pengaruh rotasi bumi atau pengaruh gaya Coriolis, arus tidak bergerak searah dengan arah angin tetapi dibelokan ke arah kanan dari arah angin di belahan bumi utara dan arah kiri di belahan bumi selatan.Pada kedalaman yang cukup besar antara 500 - 2000 m, kecepatan arus yang ditimbulkan angin menjadi nol. Kedalaman dimana kecepatan arus sama dengan nol disebut kedalaman tanpa gerakan atau kedalaman Ekman (Azis, 2006).

Gambar 4. Arah Arus Permuakaan Dunia
Arus adalah gerakan mengalir suatu massa air ke arah tertentu. Arus ini bisa sehangat 30oC atau sedingin -2oC, tergantung darimana air tersebut berasal, dan lebar arus bisa lebih dari 60 km. Sebagian besar arus bergerak dengan kecepatan 10 km per hari, meskipun untuk beberapa jenis arus dapat bergerak lebih cepat. Arus membawa banyak sekali air ke seluruh penjuru bumi, mempengaruhi dan membantu mengatur iklim. Arus terdapat di permukaan maupun di samudera yang dalam. Arus mempunyai arti yang sangat penting dalam menentukan arah pelayaran bagi kapal (Kurniawan et, al., 2009).
Menurut Widyastuti (2009) pergerakan arah arus permukaan indonesia sebagai berikut:
1.      Arus yang bergerak dari Benua Asia menuju ke Benua Australia, dikarenakan pengaruh angin muson barat, rata-rata pola pergerakan arus ini terjadi pada kisaran bulan Desember-Februari.
2.      Arus yang bergerak dari Benua Australia menuju ke Benua Asia, dikarenakan pengaruh angin muson timur, rata-rata pola pergerakan arus ini terjadi pada kisaran bulan Juni-Agustus.
Tabel 1. Kecepatan arus permukaan maksimal dan minimum pertahun


Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerakan ke atas) maupun secara horisontal (gerakan ke samping). Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut, sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut (Hanafi, 2009).
Samudra pasifik ternyata memiliki arus laut yang kuat. Aliran arus laut karena pasang surut atau arus sungai menyimpan energi hidro kinetik yang dapat dikonversikan menjadi daya listrik. Perubahan kecepatan arus yang sangat besar dipengaruhi oleh gaya pasang surut yang bekerja menyebabkan pergerakan massa air. Perubakan kecepatan ini diakibatkan perbedaan batimetri dan pergerakan elevasi muka air (Purba, 2010).
2.4. Kedalaman
Dilihat dari kedalaman lautmya, perairan Indonesia pada garis besarnya dapat di bagi dua yakni perairan dangkal berupa paparan dan perairan laut dalam. Paparan (shelf) adalah zona di laut terhitung mulai dari garis surut terendah hingga pada kedalaman sekitar 120 - 200 m yang kemudian biasanya disusul dengan lereng yang lebih curam ke arah dalam. Ada dua paparan yang luas di Indonesia yakni Paparan Sunda di sebelah barat dan Paparan Arafura-Sahul di sebelah timur.
Indonesia mempunyai topografi dasar laut yang kompleks, hal ini di sebabkan karena di kawasan Indonesia berbenturan atau bergesekan empat lempeng litosfer yakni lempeng-lempeng Eurasia, Filipina, Pasifik dan Samudra Hindia-Australia (Nontji, 2007).

Gambar 5. Kedalaman
Berdasarkan kedalamannya laut dibedakan menjadi 4 wilayah (zona) yaitu: zona Lithoral, zona Neritic, zona Bathyal dan zona Abysal.
1.      Zona Lithoral, adalah wilayah pantai atau pesisir atau shore. Di wilayah ini pada saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan. Oleh karena itu wilayah ini sering juga disebut wilayah pasang-surut.
2.      Zona Neritic (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga pada wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Contohnya laut Jawa, laut Natuna, selat Malaka dan laut-laut di sekitar kepulauan Riau.
3.      Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 150 m hingga 1800 m. Wilayah ini tidak dapat tertembus sinar matahari, oleh karena itu kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di wilayah Neritic.
4.      Zone Abyssal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman di atas 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan. Jenis hewan yang dapat hidup di wilayah ini sangat terbatas.
2.5. Kelerengan
Kemiringan lereng pantai dan distribusi sedimen merupakan bagian dari geomorfologi pantai dan menjadi indikator dinamika pantai. Menurut Komar (1983) dan Kalay (2008) keberadaan kemiringan lereng pantai dan distribusi sedimen sebagai penutup dasar perairan menggambarkan kestabilan garis pantai. Kemiringan pantai berhubungan dengan dominansi dan sebaran sedimen. Perubahan geomorfologi pantai akibat dinamika kemiringan lereng dan distribusi sedimen menyebabkan terjadinya abrasi maupun akresi pada pantai.
 Menurut Triatmodjo (1999) perubahan bentuk pantai merupakan respons dinamis alami pantai terhadap laut. Apabila proses tersebut berlangsung terus-menerus tanpa ada faktor penghambat, maka akan terbentuk suatu kesetimbangan pantai. Selanjutnya menurut Diposaptono (2004) dalam skala waktu dan ruang luas daratan, besaran energi eksternal dan daya tahan material penyusun pantai akan menentukan apakah pantai tersebut akan stabil ataukah mengalami perubahan.
Tabel 2. Kemiringan Lereng
Simbol
Kemiringan Lereng
Topografi
1
Kurang dari 3 %
Datar
2
3 - 15 %
Berombak
3
15 – 30 %
Bergelombang
4
30 – 50 %
Berbukit
5
50 – 80 %
Berbukit
6
80 – 100 %
Sangat Curam
7
100 – 150 %
Terjal
8
150 % - ke atas
Sangat Terjal
            Kemiringan lereng menunjukan besarnya sudut lereng dalam persen atau derajat. Dua titik yang berjarak horizontal 100 meter yang mempunyai selisih tinggi 10 meter membentuk lereng 10%. Kecuraman lereng 100% sama dengan kecuraman 45 derajat. Selain dari memperbesar jumlah aliran permukaan, semakin curamnya lereng juga memperbesar energi angkut air. Jika kemiringan lereng semakin besar, maka jumlah butir-butir tanah yang terpercik ke bawah oleh tumbukan butir hujan akan semakin banyak. Hal ini disebabkan gaya berat yang semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah dari bidang horizontal, sehingga lapisan tanah atas yang tererosi akan semakin banyak. Jika lereng permukaan tanah menjadi dua kali lebih curam, maka banyaknya erosi per satuan luas menjadi 2,0 - 2,5 kali lebih banyak (Arsyad, 2002).
2.6. Suhu
            Suhu merupakan salah satu faktor pembatas terhadap ikan-ikan atau biota akuatik. Suhu dapat mengendalikan fungsi fisiologis organisme dan berperan secara langsung atau tidak langsung bersama dengan komponen kualitas air lainnya mempengaruhi kualitas akuatik. Temperatur air mengendalikan spawning dan hatching, mengendalikan aktivitas, memacu atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan, menyebabkan air menjadi panas atau dingin sekali secara mendadak. Temperatur air juga mempengaruhi berbagai macam reaksi fisika dan kimiawi di dalam lingkungan akuatik (Sovisa, 2009).
            Menurut Nontji (1987), suhu air permukaan di perairan nusantara kita umumnya berkisar antara 28 - 31oC. Suhu air didekat pantai biasanya sedikit lebih tinggi daripada yang di lepas pantai. Peningkatan suhu perairan mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan valurisasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan gas di dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4 dan sebagainya (Hassam Efendi, 2009).
Secara keseluruhan, sebagian besar air samudra itu dingin. Kurang dari 10% volume air laut di muka bumi suhunya lebih dari 10˚ C dan lebih dari 75% suhunya di bawah 4˚ C . alas an utama dari perbandingan ini adalah karena sinar matahari hanya mampu menembus laut sampai beberapa ratus meter saja. Sedangkan pengaruh penyinaran matahari musiman hanya mencapai kira – kira 100 m. akibatnya di samudra terdapat lapisan atas yang relative hangat dihubungkan dengan lapisan transisi mendadak ke air dingin yang merupakan kolom air samudra sisanya. Daerah (lapisan) dengan penurunan suhu cepat ke bawah ini disebut termoklin (Romimohtarto,2009).

Gambar 6. Stratifikasi Suhu Prairan Laut
Menurut Abdulmunthalib (2009) stratifikasi vertikal kolom air yang berdasarkan perbedaan panas (perbedaan suhu) pada setiap kedalaman perairan dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1. Epilimnion merupakan lapisan bagian atas perairan. Lapisan ini bagian yang hangat kolom air, suhu relatif konstan (perubahan suhu sangat kecil secara vertikal). Seluruh massa air di lapisan ini tercampur dengan baik karena pengaruh angin dan gelombang.
2. Metalimnion atau yang sering disebut Termoklin, terletak di bawah lapisan epilimnion. Perubahan suhu dan panas secara vertikal relatif besar pada lapisan ini. Setiap penambahan kedalaman satu meter terjadi penurunan suhu air sekitar 1˚C.
3. Hipolimnion, terletak di bawah lapisan termoklin. Lapisan ini lebih dingin, bercirikan adanya perbedaan suhu secara vertikal relatif kecil. Sifat massa airnya stagnan, tidak mengalami percampuran (mixing) dan memiliki kekentalan air (densitas) yang lebih besar. Pada umumnya di wilayah tropis memiliki perbedaan suhu air permukaan dengan bagian dasar hanya sekitar 2 - 3˚C.
2.6. Kecerahan
Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai dimana masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, lapiran-lapisan manakah yang paling keruh, yang agak keruh dan yang paling keruh (Kordi dan Andi, 2007).
Faktor kecerahan ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi, berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula (Dedi, 2009).
Kecerahan suatu perairan menetukan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlansung sempurna. Kecerahan yang mendukung apabila Seichi disk mencapai 20-40 cm dari permukaan. Kecerahan merupakan ciri penentu untuk pencerahan, penglihatan yang mana suatu sumber dilihat memancarkan sejumlah kandungan cahaya (Effendi, 2003). Dalam kata lain kecerahan adalah pencerahan yang terhasil dari pada kekilauan sasaran penglihatan, Kecerahan merupakan suatu ukuran dimana cahaya didalam air yang disebabkan oleh adanya partikel-partikel kaloid dan suspensi dari suatu bahan pencemaran
Kecerahan air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sediment yang di bawa oleh aliran sungai pada laut yang diketahui radiasi sinar matahari yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis. Tumbuhan laut akan kurang dibandingkan dengan air laut jernih. Pada perairan laut yang dalam dan jernih, fotosintesis tumbuhan itu mencapai 200 meter, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15-40 meter (Efrizal, 2006).